Jumat, 20 April 2012
Jumat, 24 Februari 2012
MENJELANG PILWALKOT CIMAHI PKB MEMBENTUK TEAM TUJUH
Hasil Rapat Pleno DPC PKB KOTA CIMAHI
Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Cimahi adalah
sebuah prosesi pendelegasian kewenangan walikota dan Wakil Walikota yang
dimiliki oleh masyarakat Kota Cimahi kepada seseorang yang bersedia menerima
kewenangan dari masyarakat (mencalonkan menjadi walikota). Sebelum
mendelegasikan kewenangan yang dimiliki kepada seseorang baik kewenangan
walikota, gubernur maupun presiden maka hal yang harus kita lihat dan
pertimbangkan; pertama, Keimanan dan ketagwaannya kepada Allah SWT,
ahlaq, sifat dan tangungjawabnya. Kedua,
Kenapa dia (seseorang) bersedia menerima delegasi kewenangan dari orang lain (
mencalokan diri jadi walikota), Untuk
apa kewenangan tersebut akan diperguanakan ( bagai mana visi dan
misinya) dan bagaimana menggunakan kewenangan tersebut ( strategi dan program).
Hal tersebut menjadi penting karena kita harus mengetahui kemampuannya, sejalan
dengan hadis jangan serahkan urusan kepada
yang bukan ahlinya.
Menyikapi akan hal ini, DPC PKB
Kota Cimahi, memandang bahwa kalau pesta demokrasi masyarakat Kota Cimahi, yang
akan berlangsung di tahun ini, sebatas persinggahan dan pengujian kualitas DPC
PKB Kota Cimahi, sebagai mesin politik yang menjadikan dan berkualitas. Hal ini
diungkapkan, demi menunjukan pada publik dan deretan Partai – Partai Kota Cimahi,
adanya kebebasan bertanggung jawab yang dimiliki setiap Kader dan Pengurus DPC
PKB Kota Cimahi, menunjukan stategi dan taktis dalam menentukan pilihan siapa
yang layak menjadi Walikota Cimahi masa bakti 2012 – 2017.
Terlepas akan kebijakan tersebut,
bahwa secara komitmen dan sikap politik DPC PKB Kota Cimahi, mekanisme Partai
tetap dilaksanakan, diawali dengan rapat pleno DPC PKB Kota Cimahi, diantaranya
keputusan yang disepakati, adalah pembentukan team tujuh (7) DPC PKB Kota
Cimahi, yang terdiri atas :
1)
Ketua Dewan Syuro DPC PKB Kota Cimahi (KH.
Nanang Fauzi)
2)
Sekretaris Dewan Syuro DPC PKB Kota Cimahi
(Cecep Warno)
3)
Ketua Dewan Tanfidz DPC PKB Kota Cimahi (Acep
Jamaludin, S.Hum)
4)
Sektretaris Dewan Tanfidz DPC PKB Kota Cimahi
(Zainal Hasan, S.Psi)
5)
Bendahara Dewan Tanfidz DPC PKB Kota Cimahi
(Dedi Ubes, S.Hum)
6)
Keterwakilan unsur Perempuan DPC PKB Kota
Cimahi;
a) Hj.
Nina (Anggota Dewan Syuro DPC PKB Kota Cimahi)
b) Endah
Gandjarsari (Wk. Ketua Dewan Tanfidz DPC PKB Kota Cimahi)
Team 7( tujuh) memiliki tugas untuk melakukan komunikasi strategis dengan
Pengusur Cabang NU Kota Cimahi, Menjaring Bakal Calon Walikota atau Wakil
Walikota dan membangun koalisi strategis dengan parta-partai politik di Kota
Cimahi. Hasil dari kerja-kerja politik
team 7 (tujuh) kemudian dibawa pada rapat pleno di internal PKB Kota
Cimahi kemudian diajukan kepada DPW dan
DPP PKB untuk mendapatkan persetujuan. Sementari ini hasil penjaringan dan komunikasi politik dengan
calon-calon Walikota yang baru muncul di internal PKB Kota Cimahi adalah Ibu
Aty Suharti. Team 7 (tujuh) masih terus
melakukan penjaringan calon walikota
lainnya yag saat ini bermunculan dilapangan sampai satu bulan kedepan. Nama-nama yang terjaring tersebut
selanjutnya akan dikonsultasikan dengan PC NU Kota Cimahi dan kembali dibawa ke
rapat pleno untuk ditetapkan.
MAULID NABI MUHAMMAD SAW....
Mengenang Revolusi Kebangkitan
Kaum Du’afa
_Oleh _
Mustopa Kamil (Wk. Sekretaris DPC PKB Kota Cimahi)
Aspek aqidah dan ubudiyah masyarakat
dipaksa jauh dari ajaran agama yang sebenarnya, karena Ka’bah dikelilingi
dengan berhala-berhala yakni latta, uzza, manat, hubal, isaf, na’ilah, dan
lain-lain. Aspek perdamaian, sudah tiada karena masyarakat mudah terprovokasi
walaupun atas permasalahan sepele, seperti kalah dalam pertandingan mengacu
terjadinya perang antar suku. Aspek ekonomi, menguntungkan kaum pemodal karena membudayanya
praktek riba. Dan aspek humanisme kehidupan sudah hilang, karena terdengar
jeritan tangis bayi perempumpuan yang dikubur hidup-hidup, dianggap sebagai aib
bagi orang tuanya.
Dibalik gelapnya kehidupan, bulan
dan bintang-bintang tersenyum karena sudah dekat akan lahirnya sang
revolusioner sejati yang dicintai oleh seluruh alam, Muhammad bin Abdillah yang
bertepatan pada tanggal 12 Rabiul Awal.
Penulis sederhanakan, ada dua
proses pembentukan kepribdian Nabi Muhammad Saw, pertama, pembelahan dada beliau (syaqish shadri) oleh malaikat Jibril, hal ini terjadi dua kali
ketika ia berusia dua tahun dan ketika ia akan melakukan perjalanan Isra’ Mi’raj. Maksud dari pembelahan
dada ini tiada lain untuk pembentukan
keimanan sebagai pola dasar untuk menjalani kehidupan. Maka pola ini kemudian
dikembangkan oleh Rosulullah Saw untuk membentuk karakter generasi bangsa yang
kuat, hal ini terdapat dalam QS. Luqman 13 yang artinya: “Dan ketika Lukman berkata kepada anaknya sambil menasehatinya: hai anakku,
janganlah kamu musyrik kepada Allah, maka bahwasannya syirik itu dzalim yang
besar”.
kedua,
pengasingan diri di Gua Hira sebagai bentuk taqarub dan tafakur atas realitas
sosial yang sedang berlangsung, yang kemudian hari beliau menerima wahyu
pertama yaitu ayat 1-5 QS. Al-alaq, perintah untuk memahami setiap kejadian,
sebagaimana M. Quraisy Shihab menjelaskan kata qaraa digunakan dalam arti membaca, menelaah, menyampaikan dan lain
sebagainya. dalam ayat tersebut objeknya tidak disebut sehingga bersifat umum,
maka objek kata tersebut mencakup segala bentuk yang dapat terjangkau baik
bacaan suci yang bersumber dari Tuhan maupun yang bukan, baik menyangkut
ayat-ayat tertulis maupun yang tidak tertulis, sehingga mencakup telaah
terhadap alam raya, masyarakat dan diri sendiri, ayat suci Al-qur’an, majalah, koran,
dan lain sebagainya. (Membumikan Al-qura’an 168). Pola ini diterapkan oleh
Rosulullah kepada masyarakat sebagai dasar untuk kemajuan bangsa, menuju bangsa
yang humanis dan dinamis. Maka dalam al-Qur’an ada sekitar 854 ayat-ayat yang
mempertanyakan mengapa manusia tidak mempergunakan akalnya (afala ta’qilun), yang menyurh manusia bertfakur (tafakarun) terhadap al-qur’an dan alam
semesta, serta menyuruh manusia mencari ilmu pengetahuan. Dan al-Qur’an menganjurkan
kepada manusia supaya menjadi ahli fikir (ulul
albab) terulang 16 kali. (Inu; Pengantar Filsapat 105). Diantaranya QS.
59:21 “… Dan perumpamaan-perumpamaan ini
kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir”.
Berangkat dari hal tersebut,
Rosulullah Saw sebagai manusia panutan alam dan dincintiai oleh seluruh
manusia. apakah kita bisa?!. tanyakan saja pada rumput yang bergoyang. Oleh
karena itu, Rosulullah Saw sebagai figur tempat bercermin menuju kepribadian
yang sholeh. Sebagaimana Allah berfirman: “Pasti
dalam diri Rasulullah ialah contoh yang baik bagi orang yang mengharap Allah,
hari akhir, dan orang yang banyak berdzikir kepada Alloh.” (QS. al-Ahzab)
Suatu hari Rosulullah Saw pulang
dari perang badar bersama para sahabat, sebagian dari mereka ada yang meniggal
mati syahid, tetapi isteri-isteri dan kelurga mereka yang ditinggalkan
meninggal merasa bahagia karena melihat Rosulullah Saw. Itulah sebagian
karakter bangsa yang dibuat dengan kekuatan iman, yang melahirkan kecintaannya kepada
beliau merupakan kecintaan yang hakiki. Oleh karena itu, masyarakat sangat
sedih dan terharu ketika Rosulullah Saw pulang kehdirat Allah SWT.
kehadiran Rosulullah di
tengah-tengah masyaralat merupakan anugerah dan rahmat dari Allah SWT bagi
kehidupan alam. Maka setiap muslim memperlihatkan rasa mahabbahnya dengan
selalu memperingati kelahiran beliau dan berusaha melksanakan perintah dan
larangannya.
Buat Apa Sekolah
Seorang ibu berkata pada anaknya”
nak kalau sudah besar kamu harus jadi pegawai negeri sipil (PNS) biar hidupmu
tidak susah, jangan meniru bapak dan ibumu yang tiap hari harus jualan sayur
kepasar, biar bapak dan ibu saja yang bodoh dan susah cari uang liat tetangga
kita itu sekolahannya tinggi coba lihat hidupnya enak kamu harus mencontoh dia”
. Sementara dilain pihak seorang ibu berkata ” buat apa sekolah tinggi-tinggi ?
dokter sudah ada, menteri sudah ada, guru banyak, presiden sudah ada, mendingan
uang sekolahmu dibelikan sapi biar beranak-pinak lebih jelas hasilnya dari pada
harus dibayarkan untuk sekolah, coba lihat si lukman itu sekolah jauh-jauh tapi
setelah selesai nganggur dan akhirnya sekarang jadi sopir anggutan..” ! Sadar
atau tidak, ditingkatan masyarakat opini yang terbangun mengenai dunia
pendidikan (sekolah) seperti yang diilustrasikan diatas.
Masyarakat menilai bahwa salah satu
alat keberhasilan seseorang bersekolah adalah sejauh mana dia mampu membawa
dirinya pada status social yang tinggi dimasyarakat indikasinya adalah apakah
seseorang itu bekerja dengan berpenampilan elegan (berdasi, pake sepatu
mengkilap, dan membawa tas kantor) atau tidak, dan apakah seseorang tersebut
bisa kaya dengan pekerjaannya? Kalau seseorang yang telah menempuh jenjang
pendidikan (SLTA, D1, D2, D3, S1, S2, dan S3) lulus dan setelah itu menganggur
maka dia telah gagal bersekolah. Hal semacam inilah yang sering ditemui di
masyarakat kita. sekolah2Mencermati hal diatas, apakah memang praktek-praktek
pendidikan yang selama ini dijalani ada kesalahan proses?, mengapa dunia
pendidikan belum bisa memberikan pengaruh pencerahan ditingkatan masyarakat,
lantas apa yang selama ini dilakukannya oleh dunia pendidikan kita? kalaupun
yang diopinikan masyarakat itu adalah kesalahan berpikir, mengapa kualitas
pendidikan di Indonesia tidak lebih baik dari negara lainnya, bukankah setiap
hari upaya perbaikan pendidikan terus dilakukan mulai dari seminar sampai
dengan pembuatan undang-undang system pendidikan nasional? Atau inilah yang
dimaksud oleh Ivan Ilich bahwa “SEKOLAH itu lebih berbahaya daripada nuklir. Ia
adalah candu! Bebaskan warga dari sekolah.”
Jelasnya pendidikan (sekolah)
bukanlah suatu proses untuk mempersiapkan manusia-manusia penghuni pabrik,
berpenampilan elegan apalagi hanya sebatas regenerasi pegawai negeri sipil
(PNS), tapi lebih dari itu adalah pendidikan merupakan upaya bagaimana
memanusiakan manusia. Tentunya proses tersebut bukan hal yang sederhana butuh
komitmen yang kuat dari setiap komponen pendidikan khusunya pemerintah
bagaimana memposisikan pendidikan sebagai inventasi jangka panjang dengan
produk manusia-manusia masa depan yang hadal, kritis dan bertanggung jawab. Kalau
dunia pendidikan hanya diposisikan sebagai pelengkap dunia industri maka bisa
jadi manusia-manusia Indonesia kedepan adalah manusia yang kapitalistik, coba
perhatikan menjelang masa-masa penerimaan siswa/mahasiswa tahun ajaran baru
dipinggir jalan sering kita temukan mulai dari spanduk, baliho, liflet, brosur,
pamlet dan stiker yang bertuliskan slogan yang kapitalistik seperti ” lulus
dijamin langsung kerja, kalau tidak uang kembali 100%, adapula yang bertuliskan
“sekolah hanya untuk bekerja, disini tempatnya” apalagi banyaknya
sekolah-sekolah yang bergaya industri semakin memperparah citra dunia
pendidikan yang cenderung lebih berorientasi pada pengakumulasian modal
daripada pemenuhan kualitas pelayanan akademik yang diberikan.
Akhirnya terlihat dengan jelas
bagaimana mutu SDM Indonesia yang jauh dari harapan seperti dilaporkan oleh
studi UNDP tahun 2000 yang menyatakan bahwa Human Development Indeks (HDI)
Indonesia menempati urutan ke 109 dari 174 negara atau data tahun 2001
menempati urutan ke 102 dari 162 negara. nganggurJadi, tidak mengherankan kalau
ditingkatan masyarakat memandang dunia pendidikan (sekolah) sampai hari ini
seperti layaknya sebagai institusi penyalur pegawai negeri sipil (PNS) indikasi
dari pandangangan tersebut bisa dilihat bagaimana animo masyarakat yang cukup
tinggi ketika pembukaan pendaftaran calon pegawai negeri sipil (CPNS)
seolah-olah status/gelar akademik yang mereka capai (D1,D2,D3,S1,S2, dan S3)
hanya cocok untuk kerja-kerja kantoran (PNS) hal inipun merupakan salah satu
faktor yang menyebabkan tingkat pengangguran kaum terdidik setiap tahunnya
bertambah sebab kesalahan motiv sekolah sebagai akibat dari prilaku sekolah
yang kapitalistik akhirnya banyak melahirkan kaum terdidik yang bermentalitas
“Gengsi gede-gedean” Beberapa hal diatas setidaknya menjadi renungan bagi dunia
pendidikan kita bahwa pendidikan bukanlah sesederhana dengan hanya mengupulkan
orang lantas diceramahi setelah itu pulang kerumah mengerjakan tugas besoknya
kesekolah lagi sampai kelulusan dicapainya (sekolah berbasis jalan tol), kalau
aktivitas sekolah hanya monoton semacam ini maka pilihan untuk bersekolah
merupakan pilihan yang sangat merugikan akan tetapi kalau proses yang
dijalankannya tidak seperti sekolah jalan tol maka pilihan untuk beinvestasi di
dunia pendidikan dengan jalan menyekolahkan anak-anak kita merupakan pilihan
yang sangat cerdas.
Oleh sebab itu sudah saatnya dunia
pendidikan kita mereformasi diri secara serius khusunya bagaimana pembelajaran
di sekolah itu bisa dijalankan melalui prinsip penyadaran kritis sehingga
melalui kekuatan kesadaran kritis bisa menganalisis, mengaitkan bahkan
menyimpulkan bahwa persoalan kemiskinan, pengangguran, dan lainnya merupakan
persoalan system bukan karena persoalan jenjang sekolah. Inilah yang seharusnya
menjadi muatan penting untuk diinternalisasikan disetiap diri siswa. Selain
itu, mengembalikan kepercayaan masyarakat bahwa sekolah itu tidak sekedar
tahapan untuk bekerja kantoran menjadi salah satu agenda dunia pendidikan yang
harus segera dilakukan sehingga masyarakatpun bisa memahami secara holistik
untuk apa pendidikan itu dilahirkan. Agenda semacam ini akan bisa dijalankan
secara baik kalau masing-masing insitusi pendidikan bertindak secara fair
bagaimana proses penerimaan siswa baru tidak lagi memakai slogan yang
menyesatkan. Mempertahankan sekolah yang kapitalistik sama saja menggerogoti
minat dan motivasi masyarakat untuk turut serta dalam mencerdaskan kehidupan
bangsa.
_"Jole" Dadang Cahyadi (Wk. Sekretaris DPC PKB Kota Cimahi)_
_"Jole" Dadang Cahyadi (Wk. Sekretaris DPC PKB Kota Cimahi)_
Langganan:
Postingan (Atom)





