Jumat, 24 Februari 2012

Buat Apa Sekolah

Seorang ibu berkata pada anaknya” nak kalau sudah besar kamu harus jadi pegawai negeri sipil (PNS) biar hidupmu tidak susah, jangan meniru bapak dan ibumu yang tiap hari harus jualan sayur kepasar, biar bapak dan ibu saja yang bodoh dan susah cari uang liat tetangga kita itu sekolahannya tinggi coba lihat hidupnya enak kamu harus mencontoh dia” . Sementara dilain pihak seorang ibu berkata ” buat apa sekolah tinggi-tinggi ? dokter sudah ada, menteri sudah ada, guru banyak, presiden sudah ada, mendingan uang sekolahmu dibelikan sapi biar beranak-pinak lebih jelas hasilnya dari pada harus dibayarkan untuk sekolah, coba lihat si lukman itu sekolah jauh-jauh tapi setelah selesai nganggur dan akhirnya sekarang jadi sopir anggutan..” ! Sadar atau tidak, ditingkatan masyarakat opini yang terbangun mengenai dunia pendidikan (sekolah) seperti yang diilustrasikan diatas.
Masyarakat menilai bahwa salah satu alat keberhasilan seseorang bersekolah adalah sejauh mana dia mampu membawa dirinya pada status social yang tinggi dimasyarakat indikasinya adalah apakah seseorang itu bekerja dengan berpenampilan elegan (berdasi, pake sepatu mengkilap, dan membawa tas kantor) atau tidak, dan apakah seseorang tersebut bisa kaya dengan pekerjaannya? Kalau seseorang yang telah menempuh jenjang pendidikan (SLTA, D1, D2, D3, S1, S2, dan S3) lulus dan setelah itu menganggur maka dia telah gagal bersekolah. Hal semacam inilah yang sering ditemui di masyarakat kita. sekolah2Mencermati hal diatas, apakah memang praktek-praktek pendidikan yang selama ini dijalani ada kesalahan proses?, mengapa dunia pendidikan belum bisa memberikan pengaruh pencerahan ditingkatan masyarakat, lantas apa yang selama ini dilakukannya oleh dunia pendidikan kita? kalaupun yang diopinikan masyarakat itu adalah kesalahan berpikir, mengapa kualitas pendidikan di Indonesia tidak lebih baik dari negara lainnya, bukankah setiap hari upaya perbaikan pendidikan terus dilakukan mulai dari seminar sampai dengan pembuatan undang-undang system pendidikan nasional? Atau inilah yang dimaksud oleh Ivan Ilich bahwa “SEKOLAH itu lebih berbahaya daripada nuklir. Ia adalah candu! Bebaskan warga dari sekolah.”
Jelasnya pendidikan (sekolah) bukanlah suatu proses untuk mempersiapkan manusia-manusia penghuni pabrik, berpenampilan elegan apalagi hanya sebatas regenerasi pegawai negeri sipil (PNS), tapi lebih dari itu adalah pendidikan merupakan upaya bagaimana memanusiakan manusia. Tentunya proses tersebut bukan hal yang sederhana butuh komitmen yang kuat dari setiap komponen pendidikan khusunya pemerintah bagaimana memposisikan pendidikan sebagai inventasi jangka panjang dengan produk manusia-manusia masa depan yang hadal, kritis dan bertanggung jawab. Kalau dunia pendidikan hanya diposisikan sebagai pelengkap dunia industri maka bisa jadi manusia-manusia Indonesia kedepan adalah manusia yang kapitalistik, coba perhatikan menjelang masa-masa penerimaan siswa/mahasiswa tahun ajaran baru dipinggir jalan sering kita temukan mulai dari spanduk, baliho, liflet, brosur, pamlet dan stiker yang bertuliskan slogan yang kapitalistik seperti ” lulus dijamin langsung kerja, kalau tidak uang kembali 100%, adapula yang bertuliskan “sekolah hanya untuk bekerja, disini tempatnya” apalagi banyaknya sekolah-sekolah yang bergaya industri semakin memperparah citra dunia pendidikan yang cenderung lebih berorientasi pada pengakumulasian modal daripada pemenuhan kualitas pelayanan akademik yang diberikan.
Akhirnya terlihat dengan jelas bagaimana mutu SDM Indonesia yang jauh dari harapan seperti dilaporkan oleh studi UNDP tahun 2000 yang menyatakan bahwa Human Development Indeks (HDI) Indonesia menempati urutan ke 109 dari 174 negara atau data tahun 2001 menempati urutan ke 102 dari 162 negara. nganggurJadi, tidak mengherankan kalau ditingkatan masyarakat memandang dunia pendidikan (sekolah) sampai hari ini seperti layaknya sebagai institusi penyalur pegawai negeri sipil (PNS) indikasi dari pandangangan tersebut bisa dilihat bagaimana animo masyarakat yang cukup tinggi ketika pembukaan pendaftaran calon pegawai negeri sipil (CPNS) seolah-olah status/gelar akademik yang mereka capai (D1,D2,D3,S1,S2, dan S3) hanya cocok untuk kerja-kerja kantoran (PNS) hal inipun merupakan salah satu faktor yang menyebabkan tingkat pengangguran kaum terdidik setiap tahunnya bertambah sebab kesalahan motiv sekolah sebagai akibat dari prilaku sekolah yang kapitalistik akhirnya banyak melahirkan kaum terdidik yang bermentalitas “Gengsi gede-gedean” Beberapa hal diatas setidaknya menjadi renungan bagi dunia pendidikan kita bahwa pendidikan bukanlah sesederhana dengan hanya mengupulkan orang lantas diceramahi setelah itu pulang kerumah mengerjakan tugas besoknya kesekolah lagi sampai kelulusan dicapainya (sekolah berbasis jalan tol), kalau aktivitas sekolah hanya monoton semacam ini maka pilihan untuk bersekolah merupakan pilihan yang sangat merugikan akan tetapi kalau proses yang dijalankannya tidak seperti sekolah jalan tol maka pilihan untuk beinvestasi di dunia pendidikan dengan jalan menyekolahkan anak-anak kita merupakan pilihan yang sangat cerdas.
Oleh sebab itu sudah saatnya dunia pendidikan kita mereformasi diri secara serius khusunya bagaimana pembelajaran di sekolah itu bisa dijalankan melalui prinsip penyadaran kritis sehingga melalui kekuatan kesadaran kritis bisa menganalisis, mengaitkan bahkan menyimpulkan bahwa persoalan kemiskinan, pengangguran, dan lainnya merupakan persoalan system bukan karena persoalan jenjang sekolah. Inilah yang seharusnya menjadi muatan penting untuk diinternalisasikan disetiap diri siswa. Selain itu, mengembalikan kepercayaan masyarakat bahwa sekolah itu tidak sekedar tahapan untuk bekerja kantoran menjadi salah satu agenda dunia pendidikan yang harus segera dilakukan sehingga masyarakatpun bisa memahami secara holistik untuk apa pendidikan itu dilahirkan. Agenda semacam ini akan bisa dijalankan secara baik kalau masing-masing insitusi pendidikan bertindak secara fair bagaimana proses penerimaan siswa baru tidak lagi memakai slogan yang menyesatkan. Mempertahankan sekolah yang kapitalistik sama saja menggerogoti minat dan motivasi masyarakat untuk turut serta dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

_"Jole" Dadang Cahyadi (Wk. Sekretaris DPC PKB Kota Cimahi)_

Minggu, 13 November 2011

PKB KOTA CIMAHI: Selamat Datang Kader Pembaharu Bangsa, Negara dan ...

PKB KOTA CIMAHI: Selamat Datang Kader Pembaharu Bangsa, Negara dan ...: PELANTIKAN dan MUKERCAB I DPC, DPAC, DPRt PKB - PPKB Kota Cimahi Masa Bhakti 2011-2016 ....................................................

Selamat Datang Kader Pembaharu Bangsa, Negara dan Agama

PELANTIKAN dan MUKERCAB I
DPC, DPAC, DPRt PKB - PPKB Kota Cimahi
Masa Bhakti 2011-2016
.........................................................................
"Konsolidasi Organisasi, Membangun Struktur yang kuat, Basis Kader yang Militan....dan Pemenangan Pemilu 2014"
.........................................................................
Sebuah rangkaian yang sangat signifikan, pada saat Komunikasi menjadi landasan pijakan awal, dalam melakukan pembaharuan organisasi, agar dapat dimaknai dengan baik..... hingga mampu membangun struktural yang kokoh atas berbagai terpaan dan cobaan, dan sangat jelas kokohnya struktural yang terbangun melahirkan basis kader yang memiliki Militansi tinggi.........

Hal ini menjadi flat form visioner para fungsionaris Partai yang siap-siap mengemban amanah organisasi, bangsa, negara dan Agama, serta umat, melalui gerbang pelantikan jama'ah...... tapi sebuah keyakinan telah tertanam dalam pribadi masing-masing, bahwa momentum "pesta demokrasi" hanya menjadi akumulasi diantara akumulasi, menuju kesempurnaan secara berjama'ah, dalam mewujudkan cita-cita besar para pendiri organisasi dan juga para founding father bangsa ini.....

Kesuksesan akan menjadi perhiasan tuk semakin meyakinkan Keluarga besar PKB Cimahi menjadi yang terbaik bagi Bangsa, Negara dan Agama. Amien

Wallahul Muafiq'Illa Aqwamithoriq
Wassalamu'alaikum Wr. Wb

Selasa, 10 Mei 2011

5 LANGKAH MENAJAMKAN FEELING KEWIRAUSAHAAN

.... Setiap orang memiliki bakat sebagai wirausahawan!...........
Stop!!!!! .... Jangan buru-buru menolak opini diatas...... Realitanya setiap orang itu dilahirkan dalam kondisi sama. Tuhan menganugerahkan otak yang sama, pancaindera yang sama, pada saat kita terlahir ke dunia. Jika diantara kita ada yang sukses menjadi pengusaha, berarti setiap orang juga memiliki bakat itu. Yang membedakan adalah lingkungan tempat kita bertumbuh kembang.

Jika kita tumbuh berkembang dilingkungan pengusaha, maka kita memiliki budaya pengusaha dan mudah menjadi pengusaha. Jika kita tumbuh berkembang di lingkungan pegawai, maka mental kita akan terdidik menjadi mental pegawai. Jika kita tumbuh berkembang dilingkungan petani, maka kita akan lebih mudah menjadi petani karena sehari-harinya kita mengenal dengan baik pertanian.

Apakah dengan demikian kita yang bukan dari lingkungan pengusaha sulit menjadi pengusaha? Tidak! Tergantung bagaimana kita menempatkan diri kita saja. Jika kita menempatkan diri kita di posisi yang benar, maka langkah selanjutnya akan mudah. Contohnya, jika memiliki keinginan menjadi pengusaha, maka seharusnya teman sepergaulan kita sehari-hari adalah pengusaha, calon pengusaha atau pedagang. Jangan korbankan diri kita untuk bergaul dengan pemabuk atau pengangguran. Salah menempatkan diri kita ibarat menceburkan mobil dalam kubangan lumpur, sulit untuk mengentaskannya.

Nah, jika kita sudah mampu menempatkan diri pada lingkungan yang tepat, maka langkah selanjutnya adalah pembelajaran kewirausahaan secara otodidak. Sebagaimana telah saya ungkapkan dalam buku Berbisnis Dengan Otak Kanan, ada 5 langkah yang dapat kita lakukan untuk menajamkan feeling kewirausahaan kita. Ke-5 langkah ini dapat diterapkan siapa saja, murah biayanya dan minim risiko.

1. Membaca & Mempelajari Buku-buku Bisnis Praktis
Pada saat membaca bagian ini, luangkanlah waktu barang sebentar untuk berkunjung ke toko-toko buku langganan Anda. Di setiap toko buku yang Anda kunjungi, begitu melangkahkah kaki pertama kali di pintu masuk, Anda akan disambut dengan berbagai jenis buku bisnis praktis. Sejak krisis ekonomi 199-1998, buku-buku jenis ini sangat diminati masyarakat karena mampu memberikan pencerahan dan panduan/pedoman bagi kita untuk melepaskan diri dari belitan kesulitan ekonomi.

Buku jenis ini biasanya dijual direntang harga antara Rp. 20.000,- s.d. Rp. 200.000,-. Kita dapat memilih jenis dan harga sesuai dengan kemampuan kita. Baca dan pelajarilah buku-buku biografi pelaku bisnis, motivasi bisnis, petunjuk bisnis praktis, manajemen bisnis. Buku biografi akan menumbuh suburkan minat kita menjadi pengusaha. Buku motivasi bisnis akan menguatkan mental kita sebagai calon pengusaha sukses. Buku petunjuk bisnis praktis akan membuka wawasan kita tentang bisnis apa saja yang dapat kita lakukan. Buku manajemen bisnis akan melatih kemampuan kita untuk mengelola bisnis yang bersangkutan. Semuanya saling melengkapi, jadi jangan hanya membaca satu jenis buku terus menerus tanpa membaca dan mempelajari buku yang lain.

2. Mengikuti Diskusi, Talkshow, Seminar Bisnis
Pada saat membaca bagian ini, coba tengoklah koran, majalah atau tabloid langganan kita. Di dalamnya pasti dengan mudah kita akan mendapati iklan mengenai diskusi, talkshow atau seminar bisnis. Diskusi atau talkshow bisnis biasanya ditawarkan dengan harga puluhan ribu rupiah per orang. Sedangkan seminar bisnis yang qualified biasanya ditawarkan mulai ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

Mengapa kita harus mengikuti diskusi, talkshow atau seminar bisnis? Sebab disitulah kita akan bertemu langsung dengan para praktisi bisnis. Makin mahal harga yang ditawarkan biasanya makin bagus pula praktisi bisnisnya. Disitulah kita dapat belajar langsung dari ahlinya. Hanya saja, tidak semua jenis diskusi, talkshow atau seminar bisnis dapat kita ikuti. Supaya tidak buang-buang waktu percuma, pilih topik yang paling mendekati atau paling bermanfaat untuk bisnis yang akan kita lakukan.

Tips yang paling ampuh adalah jangan pasif pada saat mengikuti acara-acara ini. Tidak perlu malu menanyakan hal-hal yang tidak kita ketahui. Toh kita memang membayar untuk mengikuti acara itu untuk mengetahui apa yang sebelumnya tidak kita ketahui. Pada saat rehat atau acara usai, jangan buru-buru pulang. Kejarlah si pembicara. Lakukan tukar menukar kartu nama. Seringkali kerjasama bisnis dapat terjadi hanya karena tindakan sepele seperti ini.

3. Mencari & Mendapatkan Mentor
Keragu-raguan adalah virus paling mematikan bagi pelaku bisnis. Virus ini paling sering menghinggapi kita yang lemah secara mental. Meskipun rajin membaca buku, mengikuti diskusi, talkshow atau seminar bisnis, tetapi setelah itu kita tidak mampu berbuat apa-apa karena selalu ragu-ragu.

Mentor adalah orang yang mampu mendampingi kita dalam menjalankan dan memajukan bisnis. Mentor biasanya adalah pelaku bisnis yang lebih berpengalaman dibandingkan dengan diri kita. Tidak sulit untuk menemukannya, karena mereka ini tersebar di sekeliling kita. Mungkin cara kita memintanya untuk menjadi mentor saja yang akan membedakan gagal atau berhasilnya usaha ini.

Cara termudah yang dapat kita tempuh adalah menjadi member organisasi-organisasi bisnis yang diikuti mentor kita. Dengan cara ini kita akan mudah mendapatkan waktu luang mereka sekedar untuk berbincang atau berdiskusi mencari solusi. Jangan segan-segan pula untuk mengajak kerjasama bisnis dengan mentor kita, misalnya kita menjadi salah satu supllier bisnis mentor kita. Dengan cara ini dijamin kita bisa berkomunikasi setiap saat dengan mentor kita.

4. Mengikuti Pelatihan Bisnis
Training atau pelatihan bisnis sekarang menjamur dimana-mana. Ternyata kelemahan pengusaha yang memerlukan pengetahuan tambahan itu ditangkap oleh pengusaha lain sebagai peluang, sehingga mereka rame-rame membuka pelatihan bisnis. Pelatihan bisnis biasanya ditawarkan mulai harga ratusan ribu sampai jutaan rupiah. Tujuannya adalah memberikan ketrampilan tambahan kepada peserta pelatihan, khususnya dalam upaya melahirkan produk atau mengelola usahanya. Ikutilah pelatihan bisnis yang paling bermanfaat untuk usaha kita. Khususnya pelatihan yang meningkatkan ketrampilan kita melahirkan produk baru, misalnya cara membuat roti dari bahan ketela pohon.

5. Nekat Membuka Usaha Dengan Pengetahuan Minim
Inilah cara yang paling sering dipraktikkan. Meskipun terkesan ngawur, nyatanya banyak yang berhasil juga membuka usaha dengan cara seperti ini. Ini membuktikan bahwa kita memang dikaruniai bakat sebagai wirausahawan. Trik ini sering disarankan oleh para pengusaha sukses bagi para pengusaha pemula. Yang penting buka usaha dulu, urusan lainnya dibenahi sambil jalan. Langkah yang terakhir ini jelas makin menempa mental kita untuk menjadi pengusaha sukses kelak.


Dimana posisi kita sekarang? Jika sehabis membaca artikel ini kita tidak berbuat apa-apa, berarti kita mengalami kemunduran. Waktu terus berjalan, seyogyanya kita menggunakan waktu yang tersisa untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi masa depan hidup kita. Semoga tulisan ini memberi inspirasi Anda. Salam sukses!

http://www.suryonoekotama.com